Nurturing Believers, Perkembangan Anak, The Believer A1, Tips

Khitan A1

Sumber: Unsplash

Salah satu momen yang membuat gelisah namun harus dilewati adalah khitan anak. Saya sendiri cukup cemas memikirkan khitan ini karena ada dua pendapat yang berseberangan yang masyhur di kalangan ibu-ibu.

Pendapat pertama, katanya lebih baik khitan dilakukan saat masih bayi agar proses recovery semakin cepat dan minim sakit. Alasan medis yang mendukung yaitu mencegah terjadinya fimosis. Fimosis berpotensi menyebabkan infeksi saluran kencing yang sering terjadi di bayi dan balita. Infeksi ini tentu akan menghambat pertumbuhan anak, karena nutrisi yang seharusnya dipakai untuk tumbuh malah dipakai untuk melawan bakteri penyebab infeksi.

Sedangkan pendapat kedua, lebih baik khitan saat anak sudah lebih besar. Alasannya agar anak mengetahui dan sadar prosesnya, plus alasan personal seperti kasihan jika dilakukan ketika bayi. Setelah berbagai pertimbangan, kami memutuskan khitan anak laki-laki kami sedini mungkin.

Qadarullah, karena beberapa keadaan, kami memutuskan khitan A1 di usia 16 bulan. Kami bertanya kepada teman-teman Indonesia di sini tentang rekomendasi klinik atau dokter yang biasa menangani khitan. Mereka merekomendasikan VATAN S√ľnnet Praxis, klinik khitan milik dokter Turki yang alhamdulillah salah satu cabang kliniknya dekat dengan rumah kami, hanya berjarak tiga stasiun U-Bahn (kereta bawah tanah) atau sekitar 10 menit perjalanan ditambah jalan kaki 15 menit.

Prosedur pertama yang dilakukan adalah menelepon klinik untuk membuat janji temu. Alhamdulillah saat itu kami dapat appointment sekitar dua minggu setelah telepon. Mereka juga bilang akan mengirimkan surat berupa bukti janji temu dan persiapan sebelum khitan. Degdegan sekali rasanya karena ini pengalaman pertama dalam hidup. Saya banyak bertanya ke teman-teman apa yang harus saya siapkan. Intinya yang dipersiapkan adalah sabar. Hahaha, klise banget ya, tapi ternyata memang itu yang paling penting. Bismillah, maka kami niatkan untuk ridha Allah dan menggugurkan kewajiban kami sebagai orang tua.

Satu minggu kemudian, surat cinta itu pun datang. Wah ternyata di sana tertulis sangat lengkap persyaratan apa saja yang harus dilakukan sebelum pergi ke klinik. Di antaranya memberikan paracetamol 30 menit sebelum khitan, pakaian yang mudah dilepas, dokumen identitas, biaya khitan, susu atau makanan yang dibutuhkan, dan paling penting adalah kedua orang tua harus hadir. Mungkin ini untuk menghindari adanya konflik ya, seperti sang ayah maunya khitan duluan, tapi sang ibu merasa kasihan, hehe.

Hari yang ditunggu pun tiba. Sebelum berangkat ke klinik, kami menyempatkan diri untuk menelepon para kakek nenek A1 untuk meminta restu dan doa agar hari ini berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Oh iya selama sekitar tiga hari, saya berusaha sounding ke A1 tentang proses khitan ini. Saya minta kerelaan A1 untuk dipegang tubuhnya oleh dokter dan menjelaskan kira-kira prosedurnya bagaimana. Saya bilang juga kepadanya kalau khitan akan sakit, tidak apa-apa menangis, in syaa Allah baik-baik saja karena kita mematuhi perintah Allah Ta’ala. Setelah itu saya memberikan paracetamol ke A1 melalui anus. Saya memilih tipe paracetamol ini agar minim penolakan dari A1 dan dosis yang bisa masuk ke tubuh sesuai yang dibutuhkan. Setelah selesai, kami langsung berangkat menuju klinik.

Sesampainya di klinik, kami menuju administrasi dan diberikan dokumen yang harus dibaca dan formulir yang harus diisi. Dokumen tersebut berisi prosedur dan jenis metode khitan yang tersedia di klinik. Karena A1 masih di bawah tiga tahun, kami disarankan untuk memilih metode Clamp. Metode ini menggunakan cincin yang dipasang di sekitar kulit penis yang akan dibuang. Kelebihan metode ini yaitu prosesnya cepat dan pemulihan tidak membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan formulir yang diisi berupa kondisi kesehatan A1 seperti berat badan, tinggi badan, alergi yang dimiliki, dan sebagainya. Selain itu terdapat formulir persetujuan dari kedua orang tua untuk khitan anak.

Tibalah nama A1 dipanggil. Kami masuk ke sebuah ruangan yang luas dengan berbagai mainan di dalamnya. Sambil menunggu dokter datang, A1 sempat bermain beberapa mainan di situ. Beberapa menit kemudian dokter datang dan memberikan informasi bahwa A1 perlu diberikan bius yang disemprot di hidung (Nasenspray). Alasannya karena di umur A1, anak sudah aktif dan akan banyak bergerak sehingga menyulitkan dokter melakukan khitan. Kami pun menyetujuinya lalu dokter langsung menyemprot A1 di hidung.

A1 langsung menangis kesakitan tapi lima menit kemudian terlihat teler seperti orang sakaw. Keadaan A1 setengah sadar, tertawa sendiri, dan matanya kosong. Diajak bicara pun hanya tertawa sambil melihat lampu warna warni yang ada di atas. Sesuatu sekali ya, Bun. Setelah 15 menit, dokter datang kembali dan menyuruh Ayah meletakkan A1 di kasur tindakan. Lalu dokter memberikan bius ke penis A1 berupa salep dan injeksi suntik. Beliau juga mengizinkan saya untuk melihat dan merekam prosesnya sampai akhir.

Proses khitan cukup cepat, sekitar 10 menit sudah selesai, bahkan A1 boleh langsung memakai diaper. Setelah itu perawat memberikan map berisi tata cara perawatan luka dan nomor yang bisa dihubungi jika ada pertanyaan atau hal darurat lain. Selain itu kami juga diberikan alat seperti tang untuk memotong clamp di waktu yang ditentukan secara mandiri. Oh iya, clamp yang dipakai di klinik VATAN ini ternyata khusus, lho, dan memiliki paten seperti di website ini. Saya tidak berpengalaman dengan clamp lain, mungkin berbeda ya bentuknya?

Setelah rangkaian khitan ini, kami memutuskan pulang cepat sebelum efek obat bius A1 menghilang. Terbayang ya kalau efek bius habis di perjalanan apalagi di kereta, huhuhu. Sampai di rumah alhamdulillah pas waktu A1 tidur siang. Kami pun sedikit lega karena A1 langsung tertidur pulas.

Namun, jeng jeng jeng… drama pun terjadi setelah A1 bangun.

A1 menangis keras sekali dan kesakitan, bahkan dia tidak mau bergerak dari tempat tidur. Jika digendong, tubuhnya tidak mau menempel ke tubuh kami, terutama bagian perut sampai lutut, jadi seperti membentuk huruf C. Mungkin dia merasa nyeri ya kalau sampai bersentuhan. Lalu dia mogok makan, seharian maunya menyusu terus. Jadi setelah khitan tidak ada makanan yang masuk sama sekali, cuma menyusu, tidur, lalu menyusu, tidur lagi. Saya pun benar-benar di atas kasur karena A1 menempel kalau tidur.

Alhamdulillah besoknya A1 terlihat lebih tenang. Dia sudah tidak menangis keras dan sudah mulai mau makan. Makannya banyak banget, mungkin kelaparan karena kemarin mogok makan. Jika digendong masih membentuk huruf C. Lalu saya memberi kegiatan busy book agar A1 tidak begitu banyak bergerak. Sebenarnya kata dokter boleh-boleh saja bergerak, tapi saya yang merasa ngeri.

Oh iya untuk penanganan luka caranya cukup unik.

Kami diminta memberikan paracetamol setiap 6 jam sekali selama 3 hari sejak khitan. Tujuannya untuk mengurangi rasa nyeri dan memberi kenyamanan terhadap anak. Selain itu, dalam 24 jam pertama setelah khitan, A1 tidak boleh dimandikan dan terkena air sama sekali. Jadi kalau ganti diaper cukup dilap saja sampai bersih tanpa kena air. Sangat direkomendasikan juga untuk sering membuka diaper atau mengangin-anginkan luka agar semakin cepat pulih sejak hari pertama.

Setelah 24 jam, A1 diminta untuk berendam 1-3 kali dalam sehari, sekali berendam 10-15 menit. Berendam hanya pakai air, tanpa sabun atau shampoo, dan dilakukan selama 3 hari. Agar A1 betah berendam, saya memasukkan lego, gelas, dan sendok untuk main tuang air dan masak-masakan. Alhamdulillah untuk bagian ini A1 cukup kooperatif.

Setelah itu barulah masuk ke tahap pemotongan kawat clamp. Caranya dengan mengoleskan Vaseline di area sekitar clamp, lalu memotong kawat clamp menggunakan tang yang telah disediakan. Kami melakukannya secara mandiri, meskipun jika merasa kurang yakin bisa kembali ke klinik untuk minta tolong dipotongkan. Setelah kawat dipotong, A1 tidak diperbolehkan berendam lagi hingga 24 jam. Jika sudah lewat 24 jam, maka berendam kembali seperti cara awal hingga cincin clamp lepas dengan sendirinya. Untuk A1 sekitar 3 hari baru lepas sendiri, jatuh ke diapernya. Alhamdulillah.

Ketika proses pemulihan, luka A1 sempat terlihat bengkak dan merah. Ada juga seperti cairan atau jaringan putih yang muncul di sekitar cincin. Karena khawatir, saya bertanya ke dokter dengan mengirimkan foto. Alhamdulillah ternyata wajar dan baik-baik saja. Jaringan putih itu ternyata jaringan baru untuk penyembuhan luka. Setelah clamp lepas sepenuhnya, terlihat hasilnya bersih dan rapi.

Jadi, apa saja yang dibutuhkan untuk proses khitan?

Pertama, sabar, sabar, dan sabar. Anak akan lebih banyak rewel karena kesakitan, juga bisa jadi mogok makan. Selain itu ritme kegiatan biasa juga akan berubah karena anak lebih tidak bersemangat dalam kegiatan.

Kedua, siapkan amunisi makanan keluarga. Wah ini penting banget kalau tidak ada bala bantuan, karena ibu akan lebih sulit mengatur waktu untuk memasak. Ibu akan lebih banyak menyamankan anak daripada melakukan pekerjaan domestik lain. Jadi di poin ini, turunkan juga standar pekerjaan domestik yang biasa dilakukan. Selain itu ibu harus banyak makan agar tenaga dan mood lebih terjaga.

Ketiga, kegiatan yang menyenangkan untuk anak yang tidak banyak bergerak, terutama untuk anak yang sudah bisa bermain. Di A1, busy book dan buku bacaan lain sangat membantu saya beraktivitas dengan A1. Kertas, pensil warna, crayon, atau buku stiker juga bisa jadi alternatif kegiatan.

Keempat, diaper dengan ukuran lebih besar. Sebenarnya ini opsional ya, tapi dari sisi saya sendiri rasanya lebih nyaman memakaikan diaper dengan ukuran lebih besar setelah khitan. Alasan saya agar luka tidak terlalu menempel dengan diaper dan semakin banyak udara yang bisa masuk. Karena prinsipnya semakin sering terkena udara, pemulihan luka semakin cepat. Saya juga tidak memakaikan celana luar ketika pemulihan luka ini.

Menurut saya, keempat hal ini cukup untuk amunisi pemulihan luka setelah khitan. Adapun seperti celana khitan atau celana batok itu opsional. Karena celana ini bisa digantikan juga dengan diaper dengan ukuran lebih besar. Oh iya, ada beberapa teman saya yang memutuskan khitan sekaligus toilet training. Ternyata bisa saja dilakukan karena anak juga lebih jarang memakai diaper ketika pemulihan luka khitan. Tapi saya sendiri tidak melakukannya karena merasa tidak sanggup dobel pekerjaan. Berat, Bun.

Untuk penanganan recovery pasca khitan sepertinya berbeda ya prosedurnya tiap dokter. Mungkin untuk hal ini mengikuti saran dokter yang menangani. Yang saya ketahui dari beberapa pengalaman teman lain adalah sering mengangin-anginkan luka dan dipastikan bersih.

Semoga sharing ini bisa menambah insight baru tentang khitan yang biasa dilakukan saat anak sudah masuk SD. Bagi keluarga besar kami, khitan sejak bayi merupakan pengalaman baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Jadi memang membuat degdegan dan kami hanya yakin akan dimudahkan Allah Ta’ala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *